Puisi Terbaik Karya Maya Angelou
Puisi Terbaik Karya Maya Angelou
Baca juga info : kursus bahasa
inggris
Dengan segudang karya dan keahliannya, nama Maya Angelou jelas layak
dikenang oleh seluruh masyarakat dunia. Perempuan kelahiran 4 April 1028
St. Louis, Missouri, Amerika Serikat, ini meninggalkan jejak yang dalam
di sejumlah bidang.
Meninggal dunia pada 28 Mei 2014 lalu, Maya dikenang dunia dengan
talentanya sebagai penulis, editor, aktivis hak sipil, penyanyi, penari,
aktris, komposer dan bahkan sebagai sutradara perempuan kulit hitam
pertama di Hollywood. Namun salah satu jejak yang paling dalam
ditapakkan adalah karya tulisnya.
Sepanjang hidupnya, Maya sudah membuat banyak tulisam berupa esai,
autobiografi dan yang terindah adalah puisi-puisinya. Tak terhitung
sudah puisi yang diciptakan Maya untuk dunia.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris
Berikut adalah 5 Puisi Terbaik Karya Maya Angelou:
1. Still I Rise (1978)
Puisi ini bercerita tentang kebanggaan warga kulit hitam di AS yang
mampu bertahan dan bangkit meski di tengah tekanan dan penganiayaan
orang kulit putih, selama berabad-abad. Puisi yang juga favorit pribadi
Maya ini pernah dibacakan oleh Nelson Mandela saat ia dilantik menjadi
Presiden Afrika Selatan pada 1994.
2. On the Pulse of Morning (1993)
Tema utama puisi adalah desakan untuk menyatukan keragaman dalam
budaya di AS. Maya membacakan sendiri puisinya yang satu ini pada acara
pelatikan Presiden AS Bill Clinton 20 Januari 1993. Maya menjadi penyair
kedua yang mendapat kehormatan serupa, setelah Robert Frost yang
membacakan puisinya “The Gift Outright” pada acara pelantikan Presiden
AS John F. Kennedy pada 1961. Rekaman suara Maya saat membacakan puisi
di acara tersebut kemudian memenangi penghargaan Grammy Award kategori
“Best Spoken Word” di tahun yang sama.
Baca juga info : kursus
bahasa inggris di al azhar pare
3. Phenomenal Woman (1978)
Puisi naratif ini menggambarkan bagaimana seharusnya seorang
perempuan bangga terhadap dirinya sendiri meski berpenampilan apa adanya
dan tak mengikuti tren serta tuntutan mata dunia. Puisi inilah yang
paling sering dibacakan Maya di berbagai kesempatan. Puisi ini
ditampilkan dalam film box office "Poetic Justice" karya sutradara John
Singleton yang rilis pada 1993 dan meraup keuntungan hingga 27 juta
dolar AS.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris mudah
4. Caged Bird (1983)
Sama seperti "Still I Rise", puisi ini juga bercerita tentang tekanan
dan penganiayaan terhadap warga kulit hitam di AS. Burung dalam sangkar
(Caged Bird) digambarkan oleh Maya sebagai warga kulit hitam yang tak
bisa hidup bebas dan hanya bisa bernyanyi dalam sangkar tersebut sebagai
bentuk penantian akan kebebasan, bukan sebagai ekspresi kebahagiaan.
Puisi ini pulalah yang mengawali karya otobiografi terbaik Maya, "I Know
Why the Caged Bird Sings".
Baca juga info : kursus bahasa
inggris di pare
5. A Brave and Startling Truth (1995)
Puisi bertema hak asasi manusia, perdamaian dan keadilan sosial dalam
puisi ini ditulis dan dibacakan langsung oleh Maya pada peringatan Hari
Kemerdekaan AS ke-50 pada 1995. Dalam puisi ini, Maya berbicara soal
sejarah ras manusia yang mencoba menciptakan peradaban besar lewat
berbagai capaian seperti membangun monumen besar hingga mempelajari
berbagai ilmu pengetahuan dengan diwarnai berbagai intrik dan
peperangan. Namun Maya mencoba menyampaikan bahwa capaian seperti itu
justru bukanlah keunggulan ras manusia sesungguhnya, melainkan cinta
kasih, perdamaian lah yang menjadi capaian terbesar.
Komentar
Posting Komentar